Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) harus menjadi fokus dalam upaya membangun citra dan peningkatakan profesionalisme kinerja. Humas menjadi faktor pengintegrasi informasi lembaga, dan berpotensi sangat besar dalam memperkenalkan instusi kepada dunia luar.
“Humas itu bertindak sebagai organisator, managerial dan sekaligus juga negosiator,” kata Drs. M. Muhadjir, MA, Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemendiknas, dalam acara Workshop Humas dan Protokol, di Ruang Sidang Utama Gedung Rektorat ITS, Kamis, 15 Juli 2010.
Workshop yang diikuti oleh perguruan tinggi negeri (PTN) se-Jawa dan PTS se-Surabaya dan Kopertis 7 mengambil tema : Membangun Citra dan Peningkatan Profesionalisme Kinerja. Univesitas Widya Kartika (UWIKA) turut hadir dalam workshop nasional yang baru pertama kali diselenggarakan itu.

Selain Drs. Muhadir, workshop yang dibuka oleh Pembantu Rektor ITS Prof. Ir. Eko Budi Djatmiko, MSc, PhD, itu juga menghadirkan pembicara yang pakar di bidang keprotokolan di Jawa Timur, Drs. Soekaryono, M.Si. Dia adalah orang yang sudah puluhan tahun mengatur keprotokolan di Pemerintah Provinsi Jawa Timur sejak mendiang gubernur M Noer.
Workshop selain untuk menambah dan menyegarkan pengetahuan para praktisi kehumasan di perguruan tinggi, juga untuk menyikapi secara arif dan bijaksana tentang pemberlakuan beberapa undang-undang terkait penyebarluasan informasi. UU itu antara lain UU No 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, UU No 14/2004 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan UU No 25/2009 tentang Pelayanan Publik.
“Ketiga undang-undang itu mendesak untuk dipahami oleh Humas agar bisa bekerja dengan professional,” tandas Drs Muhadjir.
Drs. M Muhadjir, MA (kiri) didampingi moderator, Drs. Setiono, MSi
Dia mengingatkan bahwa Humas itu harus pandai-pandai mengemas informasi agar bisa diterima para pemangku kepentingan dengan benar, dan tidak bias. Media massa begitu lihai mengolah berita sehingga menuntut Humas perguruan tinggi untuk juga cerdas dalam mengemas dan mengelola arus dan sumber-sumber informasi yang ada di lembaganya masing-masing.
Hal yang juga sangat penting dibangun oleh Humas adalah peningkatan citra lembaga. “Citra itu adalah aura yang keluar dari dalam. Apa yang dari dalam? Yaitu keikhlasan dan karakter. Dengan citra yang baik yang dibangun oleh Humas, lembaga kita menjadi menarik bagi semua pihak,” katanya.
Apabila semua pihak merasa tertarik dengan kita, maka berbagai manfaat akan datang dengan sendirinya. Para donatur atau pun sponsor akan dengan mudah bersedia untuk diajak kerjasama.
“Membangun citra itu sama dengan membangun nama baik dan kepercayaan. Bagaimana caranya, ya dengan peningkatan pelayanan kita,” tandas Drs Muhadjir.
Di akhir paparannya, antropolog yang pernah menjabat sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Kedubes RI di Belanda itu memberi kata kunci bagaimana sebuah insitusi yang ingin maju. Menurut dia, jika suatu institusi itu mau maju, maka instiusi harus bisa membangun suasana saling memajukan, suasana saling menghargai, dan membangun suasana saling bisa bekerjasama. Keuntungan dari ketiga upaya itu adalah insitusi kita menjadi dikenal. “Dan jika sudah dikenal selanjutnya institusi bisa dipercaya. Jika sudah bisa dipercaya maka hal-hal lainnya akan ditambahkan,” pungkasnya.








