Cuaca masih gelap dan udara sangat dingin. Sekitar pukul 5 pagi waktu itu. Dalam suasana itulah, tanggal 3 November 2009 lalu, pesawat KLM yang ditumpangi Rektor UWIKA Dr. Ir. Gembong Baskoro, M.Sc. mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Schiphol, Amsterdam, Belanda. Pendaratan ini setelah menempuh kurang lebih 12 jam perjalanan non-stop dari Jakarta.Sejak semula rektor memang merencanakan memasuki dan akan keluar dari kawasan Eropa melalui bandara Schiphol sebelum melanjutkan penerbangannya ke Madrid, Spanyol. Penerbangan ke Madrid ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam. Pesawat yang ditumpangi rektor mendarat di Madrid sekitar pukul 10 pagi. Segera setelah keluar dari kawasan bandara, rektor dan rombongan langsung menuju hotel.
Madrid adalah kota yang ’hidup’ nyaris 24 jam nonstop. Kota ini sangat terkenal dengan klub sepakbola El Madrid dengan stadion Santiago Bernabeu-nya. Di kota ini pula terkenal dengan atraksi Matador, yaitu pertarungan antara manusia dengan banteng. Orang Spanyol meyebutnya ”Toros” yang biasanya diadakan di La Plaza de Toros de Las Ventas del Espíritu Santo atau disingkat Las Ventas saja.
Sebenarnya sejarah kota Madrid telah ada sejak jaman prehistoric (prasejarah). Tetapi Madrid baru mendapat perhatian hingga akhir abad kesepuluh saat dibangun kastil tempat Royal Palace saat ini berada.
Sejarah kota Madrid terus bergulir. Madrid mengalami perubahan signifikan pada abad ke 18 dengan berdirinya bagunan-bagunan dan jembatan-jembatan baru yang menghiasi wajah kota itu. Saat ini kota Madrid telah tumbuh menjadi salah satu kota terindah di Eropa yang mampu menggabungkan nuansa modern dan klasik.
Hal bersejarah lainnya adalah pada tahun 1835 Universitas Alcalá de Henares yang terkenal dipindahkan ke Madrid. Universitas itu kemudian menjadi Universidad Complutense de Madrid (UCM) dan merupakan salah satu universitas tertua di dunia (berdiri sebelum tahun 1500).
Di universitas inilah President Direktur Pharmamar, Dr. Fernández Sousa, pernah meniti karir akademiknya dalam bidang biokimia hingga menjadi Full Professor.
Pharmamar adalah sebuah lembaga riset dalam bidang biofarma/bioteknologi yang juga mengundang Rektor UWIKA untuk datang berkunjung ke laboratoriumnya dan menindaklanjuti kemungkinan perluasan kerja sama penelitian antara UWIKA-Pharmamar.

Esok paginya, dalam kepungan cuaca yang dingin, Rektor UWIKA bersama representative Pharmamar di Indonesia berangkat menuju Laboratorium Pharmamar untuk bertemu dengan Dr. Carmen Cuevas yang pernah mengenyam pendidikan tingginya di Universidad de Alcalá de Henares (UAH). Saat ini beliau menjabat sebagai Research Direktur Pharmamar di Madrid.
Pharmamar adalah salah satu perusahaan biofarmasi terbaik di dunia dengan visi memanfaatkan potensi sumber daya laut untuk upaya penemuan obat kanker. Untuk kepentingan itu semua, Pharmamar kini sedang melakukan ekspedisi keseluruh dunia, termasuk Indonesia. Ekspedisi ini untuk mencari potensi organisme laut yang dapat digunakan dalam penelitian obat kanker.
Pharmamar didirikan pada tahun 1986 sebagai sebuah perusahaan yang bernaung dibawah grup Zeltia, membawahi kurang lebih 6 perusahaan besar dalam bidang sejenis, yang telah berdiri sejak tahun 1939. Dalam kunjungan ke Pharmamar, setelah berbincang berbagai hal penting, Rektor UWIKA berkesempatan mengunjungi (scientific tour) laboratorium mereka yang merupakan salah satu yang terbaik di dunia dalam bidang biofarma. Hal menyolok yang membedakan dengan hal sejenis di tanah air adalah pada (keseriusan) sumber daya manusia dan sumber daya teknologi. Sayangnya peraturan tidak mengijinkan rombongan rektor UWIKA untuk dapat mengambil secuil pun gambar dalam laboratorium tersebut.
Setelah kunjungan ke Pharmamar selesai, rektor bergegas menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia di Calle de Agastia, Madrid. Rektor bertemu dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Spanyol yang mulia Bapak Slamet Santoso Mustafa. Pertemuan yang difasilitasi Bapak Allen Simarmata, sekretaris utama dan atase bidang sosial dan budaya, berlangsung dengan penuh pengertian dan dalam suasana kekeluargaan.
Dubes Slamet Santoso Mustafa memberikan arahan dan dukungan yang positif atas inisiatif dan upaya kerja sama yang dibangun UWIKA dengan Pharmamar.
Kunjungi Belanda
Memanfaatkan waktu yang tersisa sebelum kembali ke Indonesia yang akan melalui Belanda, Rektor UWIKA, walaupun dengan susah payah menahan dinginnya Negeri Belanda, berkunjung ke kota Eindhoven. Ini adalah sebuah kota tempat teknologi tinggi Belanda berada. Eindhoven juga sangat terkenal dengan klub sepakbola PSV Eindhoven dan perusahaan lampu paling terkenal didunia dari Belanda.
Kunjungan ini untuk melakukan benchmarking dan menjajaki kemungkinan kerja sama berbagai bidang dengan universiteit yang ada di Belanda. Bersama Bapak Aloys Tan, MD, Rektor UWIKA mengunjungi Fontys Hoogeschool Eindhoven. Tak lama kemudian mampir ke kampus Technische Universiteit Eindhoven. Di universitas inilah Rektor UWIKA menyelesaikan pendidikan doktoralnya.

Rombongan juga diajak Bapak Aloys Tan mengunjungi High Tech Campus Eindhoven, sebuah pusat riset teknologi tinggi di Eindhoven, dan beberapa tempat lainnya di kota Eindhoven. Dalam kesempatan itu Rektor UWIKA melihat beberapa embrio kerja sama yang dapat di-kembangkan pada tahun mendatang dengan dan antarberbagai institusi. Khususnya untuk kemungkinan adanya pertukaran mahasiswa dengan institusi di sana. Kemungkinan kerja sama ini sebagai upaya mendorong percepatan internasionalisasi UWIKA. Bukan hanya itu, kerja sama ini juga bisa memberikan kesempatan kepada para mahasiswa untuk memahami budaya antarbangsa yang merupakan ciri kehidupan, budaya, dan ekonomi global yang berlandaskan ilmu pengetahuan dan saling pengertian.

Pada hari terakhir sebelum kembali ke Indonesia dari Amsterdam, Rektor UWIKA, dalam cuaca kota Amsterdam yang dingin mengigit, bersama rekan-rekan dari Pharmamar Rep. berkesempatan mengunjungi TIME Amsterdam. TIME Amsterdam adalah salah satu contoh best practice dari ”Industri Kreatif” yang telah dipraktikkan penduduk di negeri Belanda.
Dalam kunjungan itu rombongan rektor berkesempatan bertemu dengan Max Meijer dan Dr. Petra Timmer sebagai pemilik dan direktur TIME Amsterdam. Pada akhir kunjungan, rombongan rektor diberi oleh-oleh sebuah buku sejarah berbahasa Belanda.
Buku ini isinya sangat menarik dan penting untuk diketahui oleh sebanyak mungkin orang Indoensia. Sayangnya tidak banyak orang di Indonesia yang dapat membacanya. Buku ini merupakan hasil penelitian selama kurang lebih 5 tahun mengenai sejarah/biografi lengkap seorang keluarga Ambtenaar dari Nederland Indische Regering di jaman Kolonial Belanda yang pernah hidup di Indonesia pada jaman itu dan keturunannya, dari istri orang asli Indonesia, yang saat ini telah bercampur baur dan tersebar baik di Belanda maupun Indonesia.








